Loading...
X

Kita Pemberani

19 Maret 2015, usia saya tepat 26 tahun. Kadang saya tidak percaya dengan waktu yang begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin saya lulus sekolah dasar, dan sekarang usia saya sudah lebih dari seperempat abad. Berada di usia 26 tahun, membuat saya banyak berpikir dan merenung, apakah selama ini saya sudah sesuai dengan moto hidup saya yaitu “be the best version of my self”? Perenungan panjang membawa saya ke sebuah kesimpulan bahwa saya bersyukur untuk semua pengalaman yang terjadi selama ini, namun saya menyadari ada satu hal yang menghambat saya meraih apa yang benar-benar saya inginkan. Ada satu hal yang secara signifikan menghalangi saya menjadi versi terbaik dari diri saya dan hal itu ingin sekali saya ubah. Sesungguhnya hal itu adalah rasa takut. Rasa takut pada sesuatu yang bahkan belum pasti terjadi. Rasa takut yang bisa jadi hanya terjadi di pikiran saya sendiri. Rasa takut yang membuat saya mengurungkan niat untuk melakukan hal-hal yang berarti. Saya ingin bertransformasi menjadi wanita yang berani. 

Rasa takut yang menghalangi saya tersebut berasal dari suara-suara negatif dalam kepala saya. Dahulu saya menyebutnya “The Devil’s Voice”, hingga beberapa hari yang lalu saya membaca artikel yang berjudul “Tamming The Mammoth” (kamu bisa baca juga artikel menarik ini disini: http://waitbutwhy.com/2014/06/taming-mammoth-let-peoples-opinions-run-life.html). Ternyata suara-suara yang menggema di dalam kepala saya setiap saya ingin mengatakan atau melakukan sesuatu disebut sebagai suara mamut (dalam Bahasa Inggris disebut Mammoth). Mamut? Iya, mamut si gajah purbakala. Ilustrasi di bawah ini saya dapatkan dari tautan artikel tersebut. Ilustrasi ini menggambarkan suara mamut yang sering membuat saya takut sehingga mengurungkan niat saya atau tetap berbuat namun dengan keraguan.

 

Suara mamut sering membuat manusia takut sehingga tidak memberikan usaha terbaik dalam setiap tindakan. (sumber: http://waitbutwhy.com/)

Saya tidak tahu saya akan hidup sampai kapan. Tapi saya tahu bahwa saya tidak mau lagi dikuasai oleh suara-suara mamut ini. Saya ingin menjadi pribadi yang berani melawan suara-suara negatif ini sehingga saya dapat melakukan segala sesuatu yang perlu saya lakukan untuk mewujudkan keinginan saya apapun resikonya. Perlahan namun pasti, saat ini saya mulai mampu untuk tidak menghiraukan suara-suara negatif ini dan keberanian tersebut membuat hidup saya jauh lebih efektif. Banyak hal yang bisa saya ciptakan dengan keberanian tersebut, dimulai dari saya berani mencoba olahraga ekstrem yaitu bermain paralayang di Puncak pada bulan Juni lalu, hingga berani membuat keputusan besar yaitu melanjutkan pendidikan saya di S2 Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Saya tahu suara-suara mamut ini tidak akan hilang selamanya, karenanya saya harus bisa memilih mana suara yang layak saya hiraukan dan mana suara yang harus saya tinggalkan.

Saya bukan satu-satunya orang di dunia yang sering dikuasai oleh suara-suara negatif di kepala sehingga menjadi seseorang yang penakut dan tidak berani mengambil resiko. Saya mengetahui bahwa kamu, dia dan mereka juga memiliki suara mamut tersebut. Saya tahu bahwa di sekitar saya, ada banyak teman yang sedang galau menghadapi suara-suara negatif dalam benak mereka yang membuat mereka tidak yakin untuk bertindak. Dengan rangkaian keputusan yang telah berani saya ambil, saya merasa sudah satu langkah lebih maju dalam usaha transformasi menjadi wanita berani, dan saya ingin sekali membantu kamu, dia dan mereka menghadapi ketakutan kita masing-masing bersama-sama. Saya ingin membantu orang-orang di lingkungan saya untuk juga berubah menjadi manusia-manusia pemberani dalam usaha mewujudkan cita-cita. Mereka adalah pemuda-pemuda yang menyadari di kepala mereka bersemayam suara mamut yang akan selalu menghantui, tapi tetap memiliki keberanian untuk tidak mengindahkan suara mamut yang menghalangi usaha mewujudkan cita-cita. Bayangkan jika ada semakin banyak pemuda bertransformasi menjadi jiwa-jiwa pemberani. Mereka akan tetap teguh dalam cita-cita membangun Indonesia, tidak takut gagal, tidak takut bersaing dengan bangsa lain, berani mengambil resiko demi kebaikan yang lebih besar. Bayangkan jika negeri ini dipenuhi jiwa-jiwa pemberani seperti itu. Negeri ini akan menjadi benar-benar besar dengan inovasi dan pembaruan. Semuanya bisa dimulai dengan perubahan untuk berani melawan suara negatif dalam kepala kita sehingga kita berani berpendapat, bertindak dan bertanggung jawab demi menjadi sebaik-baiknya diri. Itulah kenapa ketika beberapa waktu yang lalu, ada seorang sahabat mengutarakan keraguannya untuk mendaftarkan diri di suatu asosiasi beasiswa ke Inggris karena tidak cukup percaya diri dengan kemampuannya untuk lolos beasiswa tersebut, saya berusaha meyakinkan dia bahwa sesungguhnya ketakutan-ketakutan itu hanya terjadi di kepalanya saja. Itu hanya suara mamut yang bisa dia jinakan, karenanya tidak ada alasan untuk ragu dalam usaha meraih keinginannya studi di Inggris. Bayangkan apa yang terjadi jika teman saya ini menuruti suara mamut di kepalanya sehingga mengurungkan niat mengirimkan aplikasi beasiswa. Dia akan menutup kesempatan untuk merealisasikan keinginannya menjadi seorang master dalam bidang Science Communication. Lebih besar lagi dampaknya, Indonesia akan kehilangan satu kandidat master dalam bidang Science Communication yang berpotensi mengembangkan dunia jurnalisme sains di negeri ini.

Saya dalam usaha saya berubah menjadi wanita pemberani. Saya dalam usaha saya mengajak, mendukung dan menginspirasi lingkungan saya untuk juga bertransformasi menjadi jiwa pemberani. Karena manusia akan selalu hidup dengan berbagai pilihan yang terbentang di hadapannya, dan setiap pilihan mengandung resiko di dalamnya. Takut adalah fitrah manusia yang hanya ditujukan kepada Tuhannya, bukan kepada kehidupan dan masa depan. Untuk apa mengecilkan diri karena  suara mamut di kepala. Saya, kamu, dia dan mereka adalah jiwa-jiwa pemberani.

 

Salam,

Venessa Allia

Leave Your Observation

Your email address will not be published. Required fields are marked *